Perpekan, RSJ Provinsi Lampung Catat Ada 2-3 Kasus Anak Kecanduan Internet

267

Lampung24jam.com, Bandar Lampung -Dari data yang ada di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Lampung mengungkap bahwa ada temuan kasus adiksi atau kecanduan internet pada anak dan remaja, yang mencapai dua hingga tiga pasien per pekan.

Ketua Komite Medik RSJ Prov Lampung, dr Tendri Septa, mengatakan, penemuan kasus ini berdasarkan data pasien yang masuk dan menjalani pengobatan rawat jalan di RSJ itu.

“Di tempat kita sudah ada kasus seperti itu (kecanduan internet). Anak dengan adiksi internet namanya. Tapi kita tidak bisa mengeluarkan data-datanya, paling jumlah. Sebab, pihak rumah sakit tidak boleh membuka data masing-masing pasien,” ujarnya, Minggu (28/3/2021).

Psikiater Konsultan Anak dan Remaja RSJ Provinsi Lampung itu menyebutkan, penyakit adiksi internet di Lampung terbagi dalam dua golongan, yaitu ringan dan berat.

Salah satu kriteria gangguan adiksi internet berat menyebabkan gangguan fungsi pada anak maupun remaja.

“Artinya, fungsi dia sebagai anak itu terganggu, mulai dari aktivitas sekolah dan perubahan perilaku. Saat adiksi itu ditutup atau tidak dipenuhi, anak tersebut berubah menjadi lebih agresif,” jelas Tendri, dilansir IDNTimes.

Pihaknya telah melakukan penanganan dengan cara rawat inap dan jalan. Namun, umumnya para orang tua lebih pilih rawat jalan secara rutin.

“Jika rawat inap, orangtua harus ikut serta mendampingi anaknya. Terlebih, sebagai besar mereka memiliki aktivitas lain seperti halnya bekerja,” ujar Tendri.

Dihelaskan, kategori penderita kasus adiksi internet di Provinsi Lampung mulai dari anak-anak berusia 6 sampai 12 tahun dan remaja umur 12 hingga 17 tahun.

Tendri menuturkan, sejauh ini penemuan kecanduan ini didominasi para remaja. Namun demikian, sebagian penderita juga datang dari pasien anak-anak.

“Sebab, beberapa waktu lalu ada juga pasien anak yang datang sekitar usia 9 sampai 10 tahun,” terang Tendri.

Gangguan kejiwaan

Berdasarkan pernyataan World Health Organization  (WHO) atau organisasi kesehatan dunia, penyakit adiksi internet masuk kategori penderita gangguan kejiwaan.

“Jadi pada saat jaringan internet rumah diputus orang tua, ketergantungan si anak bisa sampai mencarinya ke rumah orang lain atau tetangganya,” papar Tendri.

Dikonfirmasi terpisah, Psikolog RSJ Provinsi Lampung, Retno Riani, membenarkan adanya penemuan kasus adiksi internet pada anak dan remaja di provinsi ini.

Hal itu umumnya disebabkan kurangnya perhatian orang tua kepada anaknya. Imbasnya, si anak mencari teman atau hiburan lain melalui gadget.

Langkah tersebut merupakan bentuk pelarian anak terhadap situasi dan kondisi di lingkungan sekitar, karena dapat menghadirkan kesenangan dan hidup dalam alam pikiran mereka sendiri.

“Itu ada (adiksi internet di Lampung). Biasanya, kita minta orang tua memiliki waktu tertentu secara konsisten, supaya membuka komunikasi dengan anak sehingga si anak tidak merasa dicuekin,” papar Retno.

Uumnya penderita adiksi internet disebabkan game pada ponsel, karena anak-anak saat ini bisa sangat mudah dalam mengaksesnya setiap waktu dan kesempatan.

Selain itu, game ponsel menjelma menjadi hal yang menarik dan menantang bagi si anak, sehingga menghadirkan rasa candu tertentu pada pemainnya.

“Satu langkah menang atau berhasil dilewati di dalam game, maka anak merasa tertantang. Ini membuat otak sulit menghentikan, serta memiliki keinginan terus-menerus untuk dimainkan,” jelas Retno.

Menurutnya, cara paling ampuh mencegah adiksi internet pada anak ataupun remaja adalah intervensi dari orang tua.

Idealnya, saat hendak memberikan ponsel harus dikontrol secara ketat.

Artinya, anak hanya boleh bermain ponsel atau gadget dengan batasan waktu tertentu.

Selain itu, pastikan anak juga sudah cukup umur dan bijak dalam menggunakan ponsel.

“Misal satu hari hanya boleh beberapa jam saja. Walaupun harus menggunakan ponsel untuk sekolah online, pengawasan penggunaan tetap diperketat,” tegas Retno.

Peran orangtua dalam hal pencegahan dan penanganan adiksi internet sangat penting.

Maka dari itu, sudah saatnya para orangtua sadar dan bisa melihat masing-masing kebutuhan buah hatinya.

“Ingat, tugas anak tidak hanya tentang belajar, tapi juga harus ada bermain dan bertanggungjawab terhadap keluarga, lingkungan, dan orangtuanya,” kata Retno.

Orangtua juga harus bisa menarik anaknya untuk masuk dalam kehidupan nyata. Tujuannya, agar ia tidak tenggelam dalam dunia internet ataupun game.

Sebagai contoh, mengajak anak berkomunikasi atau bicara pada saat sarapan bersama dan sebelum tidur.

Retno menilai, umumnya orang tua zaman sekarang banyak yang mengabaikan hal tersebut dan memilih sibuk dengan aktivitas serta gadget masing-masing.

“Koneksi emosi antara si anak dan orang tua tidak terjalin dengan baik. Bahkan saat keluarga tersebut sedang berekreasi, justru sibuk dengan ponselnya masing-masing,” ujarnya.

Hal ini juga merupakan suatu fenomena aneh sekaligus prihatin, pergi bersama tetapi autistik berpikir dengan alam pikirannya sendiri.

“Ketika kita dekat dengan seseorang menjadi jauh dan justru yang jauh merasa lebih dekat,” terang Retno.

Mendidik anak di rumah bukan hanya menjadi tugas seorang ibu, tapi merupakan tanggungjawab kedua orangtua.

Namun harus diakui, peran sosok ibu sangat dominan dalam hal perhatian.

“Ibu yang menanyakan sudah makan belum. Tugasnya bagaimana? apa sudah dikerjakan. Interaksi ini, memang lebih sering diungkapkan ibu. Sementara kalau si ayah lebih condong menanamkan sikap dan moral terhadap anaknya. Masing-masing orangtua itu, punya perannnya sendiri-sendiri,” ujar Retno.

Anak juga diwajibkan mengetahui ada sisi lain di keluarganya, sehingga ke depan perlu dipertimbangkan emosi seperti saling menyayangi, menjaga, dan tidak hidup di dunianya masing-masing.

“Nanti anak akan jadi aktif dan pikirannya bisa teralihkan, tidak hanya tertumpu ke gadget. Kuncinya adalah peran orangtua,” tandas Retno.

Ibu rumah tangga di Kecamatan Sukarame, Kota Bandar Lampung, Sumiati, mengatakan, sejatinya ia telah menyadari dampak ditimbulkan bagi anak saat menggunakan gadget atau smartphone secara berlebihan.

Oleh karena itu, ibu tiga anak ini memberlakukan peraturan khusus terhadap penggunaan ponsel kepada masing-masing anaknya.

Dia juga memasang fitur ‘kontrol orang tua’ pada ponsel pintar sebelum digunakan anak.

Tujuannya, fitur itu secara langsung, dapat memantau dan membatasi penggunaan ponsel di tangan anak.

“Itu saya lakukan ke anak nomor dua sama yang bungsu, karena mereka belum dewasa, masih SMP dan SD. Yang pertama sudah kuliah. Jadi lebih diberi kebebasan, tapi tetap sesekali ponselnya kita cek juga,” terang Sugiati.

Ia tidak memberikan hak penuh kepada anak-anaknya terhadap kepemilikan ponsel atau smartphone.

Dia selalu menggunakan istilah ‘meminjamkan’, sehingga ketika waktu penggunaan selesai ponsel akan diambil alih kembali oleh oran tua.

“Sehari biasanya kita kasih waktu batas main ponsel hanya tiga sampai empat jam saja, siang hingga sore. Kalau malam kita selalu coba sempatkan mengobrol bersama keluarga di ruang TV,” terang Sugiati.

Sebagai sosok ibu rumah tangga dan lebih sering menghabiskan waktu bersama anak-anaknya, melakukan pengawasan akan penggunaan smartphone atau gadget menjadi lebih sulit di masa pandemik Covid-19.

Pasalnya, anak-anak harus lebih sering berdiam diri di rumah dan mengurangi waktu bermainnya di lingkungan sekitar.

“Dengan adanya virus Corona ini, kita menekankan anak di rumah saja. Jangan banyak main di luar. Tapi, imbasnya anak-anak cepat bosan dan merengek minta ponsel. Inilah tantangan kita sebagai orang tua, bagaimana supaya anak bisa betah di rumah bersama keluarganya, bukan dengan ponsel,” tutur Sugiati.

Selain itu, ia juga harus ekstra ketat mengawasi anak saat beraktivitas sekolah online dengan smartphone atau perangkat gadget lainnya.

Sugiati menginginkan anaknya untuk sekolah online di ruangan terbuka, sepert ruang tamu dan keluarga.

“Jadi walaupun sedang sekolah online, kegiatan anak dengan smartphone atau laptop bisa tetap kita kontrol. Tidak melulu di dalam kamar saja,” ujarnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here